Yuk Pahami! Rapor dan Rangking yang Diperdebatkan

Operator Mifa - Seperti yang Ayah-Bunda perhatikan di status Facebook, Instagram, Whatsapp, Telegram dan media sosial lainnya beberapa hari ini (dan beberapa hari ke depan) cukup panas dengan beberapa status sehubungan dengan rapor anak.


“Ntar lagi terima rapor neh, siap-siap aja beranda bakal dipenuhin foto emak-emak yang pamer sama rangking anaknya.” Cetus salah satu akun. Dan kemudian status itu pun kemudian mendapat respon beragam.

“Buat saya ga penting rangking, yang penting anakku jadi orang baik aja udah cukup.” “Rangking di sekolahan gak menjamin masa depan anak, toh faktanya banyak yang dulunya gak rangking di sekolah sekarang jadi orang sukses.” “Aku terima rapor anak, langsung pulang aja tuh, ga nanya-nanya sama walikelasnya perihal rangking anak, walaupun sama gurunya pasti ada daftarnya. Karena buat apa, sih. Rangking itu ga penting-penting banget, lah. Karena anak gak rangking bukan berarti bodoh, kan ?”

Dan ... banyak lagi komen-komen senada disana. Please, deh.  Apa iya persoalan rangking ini tidak sebegitu pentingnya ?

Jika rangking ini memang tidak penting, lalu buat apa ada kejuaraan ini, turnamen itu, olimpiade ini, dan beragam lomba lainnya ? Bukannya hasil dari semua itu adalah rangking juga ?  Mengapa rangking di bidang non akademis menjadi sesuatu yang ‘wah’, trus prestasi di bidang akademis jadi persoalan ? Menurut saya pribadi, nih, ya. Rangking ini tetap perlu diadakan, dengan tujuan untuk memotivasi siswa untuk lebih giat dalam belajar. 

Tetapi, yang menjadi problem di sini adalah kecendrungan para orang tua yang justru mengkotak-kotakkan kemampuan anak-anak hanya terbatas pada rangking sekolah. Anak yang rangking itu pintar, anak yang tidak rangking itu bodoh.

Pemikiran seperti itu justru yang harus dibuang dalam pikiran kita. Saya setuju dengan pendapat salah satu komentator di atas, “... anak ga rangking bukan berarti bodoh, kan ?” Ini benaaar. Tapi jangan lantas mengharamkan pemberian rangking dalam rapor anak. Karena nyatanya, pemberian beasiswa pendidikan untuk siswa di sekolah juga berdasarkan rangking, kan ? Kalo saya pribadi justru lebih concern sama pembentukan karakter anak. Gimana caranya agar anak tetap low profile sekalipun dia juara, gimana caranya anak tidak down disaat dia gagal. Gimana caranya menanamkan pikiran positif kepada anak agar tidak iri dengan prestasi temannya. Gimana caranya anak bisa menemukan bakat istimewa pada dirinya. Gimana caranya meyakinkan anak bahwa apa pun yang dia lakukan, dia tetap berharga bagi orang tuanya.

Ketika akan terima rapor, Nurfa pernah bertanya, "Babah, kalo Nurfa gak juara lagi gimana ?" Saya menggenggam tangannya erat, menatap matanya lembut kemudian berkata, "juara atau enggak Nurfa di sekolah, bagi Babah Nurfa selalu juara di hati Babah dan Ibu. Babah tetap bangga dengan Nurfa karena Nurfa sudah rajin belajar, rajin ibadah dan jadi anak yang baik hati. Baik tidak akan kecewa karena Babah tahu Nurfa sudah melakukan yang terbaik. Jadi Nurfa jangan pernah merasa sedih, ya, Nak." Sebagai orang tua Nurfa , Saya dan ibunya pastilah sama dengan orang tua lain pada umumnya. Pengen anaknya berprestasi, baik itu di sekolah atau pun di luar sekolah. Tapi, kami tidak menjadikan itu sebagai beban pada anak. Yang terpenting bagi kami adalah anak menikmati proses belajarnya di sekolah. Dia merasa nyaman dan tidak terbebani. Jika dia dapat rangking Alhamdulillaah, kalau tidak ya tidak masalah.

Jadi, kalo ada emak-emak yang pajang foto rangking anaknya di media sosial, wajar kok menurut saya. Mungkin itu salah satu wujud rasa bangga atas perjuangan anaknya dalam belajar. Positive thinking sajalah. Silahkan like atau ucapkan selamat dengan tulus kalau mau. Kalau rasa-rasanya mengganggu, tinggal pilih option aja, trus klik ‘sembunyikan kiriman’. Tidak ada paksaan untuk nge-like status mereka, kan ? Yang perlu banget saya ingetin nih sama ibu-ibu yang pengen majang foto rapor anaknya di media sosial, tolong jaga poin-poin berikut, ya.

Jangan memajang info pribadi anak yang tertera di rapor anak.

Kalau mau pajang nilai-nilai rapor boleh aja, tapi tutupin dong info-info pentingnya. Karena ini demi si anak juga, kan. Jangan sampai rasa bangga kita dimanfaatin tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Hindari menggunakan caption dan hashtag dengan nama sekolah anak

Udah kebiasaan emak-emak zaman now nih, kalo bikin status tidak lengkap rasanya kalo tidak pakai hashtag. #EdisiTerimaRaporAnak #SDIndo #JuaraISDIndo. Ini lebih berbahaya lagi, maak. Berarti secara tidak langsung kita sudah menyediakan bank data untuk mereka-mereka yang berniat jahat. Karena sang pelaku tinggal narik data dari hashtag, udah, dapet semua tuh data anak.

Jangan gunakan fitur Siaran Langsung saat terima rapor anak

Ampuuun. Ini lebih bahaya lagi, karena yang namanya siaran langsung ya terekam semua dong, ya. Ada tempat acara, seragam anak, dan semua data-data yang penting. Kalo niatnya mau merekam momen penting biar ayah anak bisa nonton momen-momen mendebarkan saat anak menerima penghargaan, tapi gak perlu siaran live gitu juga kali ya. Off the record aja, entar bisa nonton juga kan di rumah. Atau pake video call aja sama si papah. Kan bisa juga.

Oke, ya, Ay-Bun. Itu aja ya dari saya. Mohon maaf, kalau ada kata-kata yang tidak berkenan. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang pengen di tambahin boleh banget lho drop di komen. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url